Lompat ke isi utama

Berita

Dari Pemilih Muda Menjadi Mitra Pengawasan, Finalis Utuh Aluh HSS Belajar Kepemiluan

Dari Pemilih Muda Menjadi Mitra Pengawasan, Finalis Utuh Aluh HSS Belajar Kepemiluan

Dari Pemilih Muda Menjadi Mitra Pengawasan, Finalis Utuh Aluh HSS Belajar Kepemiluan

Bagaimana masyarakat bisa ikut menjaga kualitas demokrasi? Pertanyaan itu menjadi salah satu topik yang banyak dibahas saat 20 Finalis Utuh Aluh Hulu Sungai Selatan (HSS) Tahun 2026 mengikuti audiensi dan pembelajaran pengawasan pemilu di Sekretariat Bawaslu HSS. Antusiasme peserta terlihat dari banyaknya pertanyaan dan diskusi yang berkembang selama kegiatan berlangsung.

KANDANGAN – Pemilih muda memiliki peran penting dalam menentukan arah demokrasi. Namun, peran tersebut tidak berhenti saat menggunakan hak pilih di bilik suara. Generasi muda juga dapat berkontribusi melalui kepedulian terhadap proses pemilu dan pengawasan partisipatif di lingkungan sekitarnya.

Pemahaman tersebut menjadi fokus dalam kegiatan audiensi dan belajar pengawasan pemilu yang diikuti Finalis Utuh Aluh Hulu Sungai Selatan Tahun 2026 di Sekretariat Bawaslu Hulu Sungai Selatan. Kegiatan ini merupakan bagian dari Karantina Terbuka Finalis Utuh Aluh HSS 2026 yang mengusung tema "Mamalai Ungkara, Junjung Sumangat Bahindang Bahindala" dengan melibatkan 20 peserta.

Ketua Bawaslu Hulu Sungai Selatan, Hasnan Fauzan, bersama Anggota Bawaslu HSS, Kamaludin, memberikan pembekalan mengenai berbagai aspek kepemiluan yang berkaitan langsung dengan peran masyarakat dalam demokrasi. Materi yang dibahas meliputi penyelenggara pemilu, perbedaan pemilu dan pemilihan, tugas dan fungsi Bawaslu, tahapan pemilu, peran pemilih muda dalam demokrasi, hingga jenis-jenis penanganan pelanggaran pemilu.

Hasnan Fauzan menjelaskan bahwa kualitas demokrasi tidak hanya ditentukan oleh penyelenggara pemilu, tetapi juga oleh tingkat pemahaman dan partisipasi masyarakat dalam mengawal prosesnya.

"Semakin banyak masyarakat yang memahami bagaimana pemilu diselenggarakan dan diawasi, semakin besar pula peluang untuk menjaga proses demokrasi berjalan sesuai aturan. Karena itu, generasi muda perlu memahami perannya sebagai bagian dari masyarakat yang peduli terhadap demokrasi," ujarnya.

Selama kegiatan berlangsung, suasana diskusi berjalan aktif. Para peserta tidak hanya menerima materi, tetapi juga memanfaatkan sesi tanya jawab untuk menggali lebih jauh tentang tugas pengawasan, penanganan pelanggaran, serta bentuk partisipasi yang dapat dilakukan masyarakat dalam mendukung pemilu yang berintegritas.

Kamaludin menilai antusiasme peserta menjadi gambaran bahwa generasi muda memiliki ketertarikan untuk memahami proses demokrasi secara lebih utuh.

"Partisipasi masyarakat dimulai dari pemahaman. Ketika masyarakat mengetahui hak, kewajiban, dan mekanisme pengawasan yang ada, mereka dapat menjadi bagian dari upaya pencegahan terhadap potensi pelanggaran serta membantu menjaga kepercayaan publik terhadap proses pemilu," katanya.

Melalui kegiatan ini, Bawaslu HSS membuka ruang dialog dengan generasi muda sekaligus memperkuat pendidikan pengawas partisipatif. Upaya tersebut diharapkan dapat menumbuhkan kesadaran bahwa menjaga kualitas demokrasi merupakan tanggung jawab bersama, bukan hanya tugas penyelenggara dan pengawas pemilu.